Sakit

Monday, May 26, 2008

Tiga hari lalu (rabu sampai jumat) saya terkapar. Perut saya mendadak sakit. Tentu saja bukan sakit bulanan, karena saya laki-laki. Saya juga kurang tahu penyebabnya persisnya. Seingat saya, sakit mulai terasa setelah saya makan siang hari rabu. Tiba-tiba perut terasa penuh dan aneh. Giliran malam harinya, kepala saya jadi pusing.

Yang paling menyakitkan bukanlah saat saya harus tergeletak nyaris seharian di kamar hari kamis dan jumatnya; Tapi saat UAS hari rabu jam 7. Dimana pada malam harinya, saya nyaris tidak belajar sama sekali. Membaca slide materi kuliah membuat saya pusing. Akhirnya saya menyiapkan strategi ujian berdasarkan statistik : dalam dua semester terakhir, sang dosen selalu membuat UAS open book, dengan soal yang mirip dengan kuis dan PR. Maka saya pun memfotokopi solusi PR milik teman, menghapalkan urutan pengerjaannya, setelah itu tidur.

Ternyata, sang dosen mengingkari kebiasaannya. Ujian tutup buku. Mayoritas teori. Dari slide yang tidak sempat saya baca. Benar-benar bodoh. UAS paling bodoh sepanjang 'karir' empat tahun di *TB. Saya duduk 1 1/2 jam seperti orang tolol di dalam ruang ujian...

Semula, saya menduga kalau saya keracunan. Tapi feeling saya menyatakan tidak (pengalaman saat masih TPB). Menurut ibu kos saya juga demikian. Itu gejala masuk angin, kata beliau. Saya manggut-manggut saja. Tidak sampai merasa perlu cross-check dengan dokter, karena dokter hanya membuat pasien jadi miskin : Tuhan yang menyembuhkan, dokter yang pasang tarif. Bercanda. Masalahnya, tarif berobat di Indonesia mirip dengan prinsip transportasi umum : murah kok minta selamat. Kalau mau cepat sembuh ya cari dokter bagus, dengan resiko harga bagus pula. Duit sedikit? Hmm..  Oleh karena itu, saya lebih memilih ikhtiar dengan obat eceran, Pocari Sweat, dan menguatkan sugesti 'saya pasti sembuh' di dalam hati.

Selama sakit, saya mulai menyadari ada yang salah dengan tubuh saya. Badan saya seperti memberikan teguran bahwa selama ini saya jarang menggerakkannya, sehingga mudah terserang sakit. Memang, kalau dipikir-pikir, gaya hidup saya benar-benar tidak sehat. Dalam 24 jam, nyaris waktu melek saya ada di depan komputer. Bergerak kalau hanya pergi ke kampus, kamar mandi, warung, dan sholat saja. Olahraga rutin hanyalah sepakbola di laptop, dengan cuma organ jempol tangan saya saja yang jadi fit. Olahraga lain, badminton (kalau ini beneran, bukan di laptop), cuma 2 jam dalam seminggu. Saya benar-benar kurang olahraga.

Ada juga hikmah lain yang saya dapatkan dari sakit tersebut. Saya sekarang jadi lebih memperhatikan pola makan saya. Maksudnya, makan tidak sampai taraf kenyang. Saya jadi teringat (kalau tidak salah) hadits yang menyebutkan bahwa jatah makanan itu cuma 1/3 perut, bukan seluruhnya. Ah, mungkin saya terlalu sering melanggarnya selama ini.

Semoga pengalaman sakit tersebut membawa kebaikan dalam diri saya.

You Might Also Like

5 comments

  1. wah kok podo mas, sakit pas jaman uas sekarang...

    ReplyDelete
  2. mungkin ada lagi penyebab lain yang belum dituliskan, malemnya gak bisa total belajar karena beberapa jam dialokasikan khusus untuk menonton final liga champion ... he3x..

    ReplyDelete
  3. @hamka
    wah, 'podo'ne kok elek yo :))

    @dodikir
    berhubung MU juara (terima kasih kepada JT dodol), saya tidak mengkambinghitamkan final UCL :D

    ReplyDelete
  4. coba dengerin nasyidnya Tashiru yang berjudul Sepertiga :D

    ReplyDelete
  5. hoi.... link gw jg lah!! haha..

    ReplyDelete