Seolah Terpisah Tapi Satu Kesatuan

Sunday, April 05, 2009



Maksudnya Recto Verso, dan ini bukan resensi karena sudah terlalu jauh dari tanggal peluncurannya, hahaha :D

Mencoba mengingat ke belakang :
September 2008 (pertama kali Recto Verso terbit (?)) -> sibuk sidang, mengurus administrasi wisuda, ditambah sedang bulan Ramadhan plus siap-siap mudik terakhir sebagai mahasiswa. Oktober -> Lebaran di kampung, sibuk menyiapkan tetek-bengek wisuda, pontang-panting melamar kerja. November -> masih deg-degan nyari kerja, sering pulang balik Jakarta-Bandung untuk wawancara. Desember -> masuk barak untuk Orientasi Sarjana (OS), kemudian pulang kampung lagi. Januari - Maret 2009 -> mulai kerja di Makassar.

Selama periode itu saya jarang sekali nonton Infotainment, tidak menyentuh detikhot, jarang ke Gramedia, tidak pernah mendengarkan radio. 'Malaikat Juga Tahu' sudah pernah sekilas dengar, tapi tidak mengetahui Recto Verso sama sekali. Sampai saat saya membaca salah satu komentar di Nguping Jakarta dua minggu kemarin.

Lalu saya memutuskan membeli bukunya.

Sebenarnya saya termasuk kategori orang pelit dalam membeli buku. Saya malas membeli buku tipis, karena buku cepat-habis-dibaca tidak sepadan dengan uang yang saya keluarkan. Saya lebih memilih sekalian membeli buku yang tebal yang lama baru habis dibaca. Membelinya pun harus di Palasari biar murah.

Tapi Recto Verso karangan Dee. Namanya macam jadi jaminan mutu. Dan saya terlanjur penasaran. Di samping itu, kurangnya hiburan di sini juga menjadi alasan pendorong yang kuat.

Recto Verso berisi 11 certepen (cerita terlalu pendek). Saya habiskan sembilan, saya tinggalkan dua yang berbahasa Inggris. Selesai, saya bingung, sudah habis? Pintar benar tim pemasarannya. Dibikin hard cover, dengan kertas yang berat. Terlihat (agak) teballl..

Maaf saya berbeda dengan kebanyakan orang di Internet yang bilang ini buku bagus. Menurut saya secara keseluruhan ceritanya biasa saja. Cerita orang autisnya terasa aneh. Klub orang penggila pertanda juga janggal. Tapi ada satu yang paling saya suka, yaitu cerita tentang punggung ayam di 'Hanya Isyarat' (diambil dari sini) :

Ceritanya begini... Empat orang di suatu kafe berkumpul untuk menceritakan kisah sedihnya masing-masing. Orang yang ceritanya paling sedih akan menjadi pemenang. Pemenangnya boleh meminta siapa saja (di antara empat orang tersebut) dan melakukan apa saja. Ada yang bercerita tentang sakit yang diderita, kehilangan sesuatu, dan imajinasi. Sampailah ke orang keempat, ia bercerita tentang temannya yang miskin.

Saking miskinnya, temannya itu hanya makan ayam di bagian punggungnya. Ia selalu makan punggung ayam yang dibelikan ibunya. Ia tak pernah tahu kalau ada bagian lain dari ayam seperti dada atau paha. Ketika ia tahu, ia menjadi sedih. Ternyata, ayam memiliki banyak bagian, tak punggung semata.

Namun, orang ini berkata, "Teman saya lebih bahagia dari saya. Ia bisa menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Sementara saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki." Orang ini menyukai seseorang dan ia hanya dapat menikmati punggung wanita yang dicintainya dari kejauhan. Ia merasa sesak napas saat wanita itu menatap matanya. Karenanya, ia hanya duduk dalam gelap dan menikmati masa-masa menatap wanita itu tanpa membiarkan si wanita tahu perasaannya.

Analoginya menarik :D

Tapi kalau mengenai albumnya, saya sepakat ini adalah album yang mantap. Aransemennya bagus, lagunya bagus, terutama liriknya itu lho, hmm... Dan favorit saya adalah Firasat. Malaikat juga tahu kalau liriknya yang jadi juara. Tapi saya lebih suka lagu ini dinyanyikan Marcel ketimbang Dee sendiri. Lebih cocok karakter suara Marcel deh (sotoy).

Terakhir, Kesimpulan saya : cara terbaik menikmati Recto Verso adalah dengan membeli CD aslinya untuk dinikmati, dan meminjam bukunya dari teman.

You Might Also Like

0 comments