Juara di Usia Senja

Monday, May 02, 2011


Berjaya di Bangkok (bangkokpost.com)
(Agak basi)

Kwanthai Sithmorseng  merebut gelar juara dunia kelas terbang mini versi WBA bulan November 2010. Untuk mempertahankan gelarnya (19 April 2011), dia memilih Muhammad Rachman sebagai lawan pertama.


Kwanthai Sithmorseng vs. M. Rachman
Di atas kertas, ini adalah pertandingan mudah bagi Kwanthai. Pertama, dia akan bertanding di kandang sendiri. Kedua, Rachman --yang menempati ranking penantang 12-- sudah berusia 39 tahun; 10 tahun lebih tua ketimbang Kwanthai. Rachman memang pernah menjadi juara dunia versi IBF pada tahun 2004. Namun kini, masa emasnya seperti telah habis. Dalam tujuh pertandingan terakhirnya, dia mengalami kekalahan lima kali, bahkan termasuk dari petinju pemula.

M. Rachman saat masih menjadi
juara IBF (bangkokpost.com)

Untuk mempersiapkan pertarungan tersebut, Kwanthai berlatih keras bersama pelatihnya, dan menjalani tarung sparring sebanyak 119 ronde di gym.

Bagaimana dengan Rachman?

Ia memilih untuk berlatih sendiri. Ia bangun setiap jam 4 pagi; berlari sejauh 10 km di stadion dekat rumahnya di Blitar; dilanjutkan dengan latihan fisik rutin seperti push-up, sit-up, dan lainnya. Seorang diri.

Jam 7 pagi, ia pulang, dan menjalani aktivitas sehari-hari sebagai kontraktor. Sore harinya, ia berlatih kembali dengan menggunakan sansak pasir. Asistennya cuma satu: istrinya sendiri. Istrinya bertugas untuk menyiapkan asupan nutrisi, serta menjadi penghitung waktu saat ia berlatih.

Ia menyewa seseorang sebagai partner latihan padwork. Hingga hari H pertarungan, ia hanya melakukan latihan sparring sebanyak 16 ronde di Surabaya. Bandingkan dengan yang telah dilakukan oleh Kwanthai.

Menyadari bahwa usianya tidak muda lagi, Rachman mengubah gaya bertinjunya. Dulu, ia akan membiarkan lawannya memukul sekali, yang kemudian dia balas dengan beberapa pukulan (counterpuncher). Tapi sekarang, ia tidak bisa melakukan hal serupa. Untuk menghadapi Kwanthai, ia memilih untuk menghindari serangan lawan, sembari menunggu saat yang tepat untuk melepaskan pukulannya.

Maka, berangkatlah ia ke Bangkok. Tanpa diketahui publik. Tanpa disertai pelatih. Hanya didampingi oleh 3 orang: seorang manajer, dan dua lainnya membantu di ring.
"Saya berangkat ke Thailand tanpa pelatih. Sejak latihan pun saya tidak didampingi pelatih. Modal saya hanya motivasi dan kerja keras."
Selama pertandingan, Rachman sempat jatuh dua kali. Pertama, karena terpeleset, dan kedua, karena pukulan Kwanthai benar-benar telak.
"Pertama pada ronde kedua. Saya jatuh bukan karena terkena pukulan, melainkan terpeleset. Akan tetapi, wasit tetap memberi hitungan. Kali ini (ronde IV), baru betul-betul karena kena pukulan hook kiri Sithmorseng yang cukup keras ke dagu saya. Sekalipun sudah dua kali mendapat hitungan, tekad saya tetap seperti sebelum meninggalkan Blitar. Saya harus juara dunia kali ini."
Rachman terus melanjutkan pertarungan. Hingga akhirnya pada ronde ke sembilan, dengan memanfaatkan stamina Kwanthai yang telah terkuras, ia berhasil meng-KO petinju Thailand tersebut.
"Saya sempat tidak percaya bahwa saya sudah menjadi juara dunia setelah memukul jatuh Kwanthai Sithmorseng untuk kedua kalinya pada ronde kesembilan. Itu sebabnya, setelah Sithmorseng dinyatakan kalah ’knock out’, baru saya sadar. Sayalah juara dunia baru. Makanya, saya langsung sujud saat itu juga."
Kemenangan ini benar-benar mengejutkan.Bagaimana tidak, dari sisi usia saja, di atas kertas Rachman sudah hampir pasti kalah. Tapi ia berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan motivasi yang kuat dapat menutupi usia tuanya.
"Kami berangkat tanpa target. Tapi hasilnya luar biasa. Terus terang saya tidak percaya jika telah jadi juara dunia."
 
Cuplikan pertandingan M. Rachman vs.Kwanthai Sithmorseng (ronde VIII)

Sekali lagi: Muhammad Rachman telah menunjukkan kepada kita, bahwa kerja keras dan motivasi kuat adalah kunci keberhasilan, apapun kelemahan yang kita miliki.

----
Dirangkum dari:
  1. FightNews.com
  2. BoxingTalk.com
  3. BangkokPost.com
  4. BoxingScene.com
  5. IndonesiaProud.wordpress.com
  6. HarianPelita.com

You Might Also Like

1 comments

  1. Bener-bener baru tahu berita ini gan. :(
    Nice inspiring true story, anyway.

    ReplyDelete