Kisruh Pembuktian Terbalik untuk Penentuan 1 Syawal: Pelajaran yang Dapat Diambil

Wednesday, September 21, 2011

Kapankah 1 Syawal  terjadi di tahun 2011? Seperti terjadi beberapa kali sebelumnya, tahun ini terdapat dua versi yang berbeda. Jadi sebenarnya, masyarakat Indonesia sudah tidak aneh lagi dengan adanya dua kali lebaran.

Namun, yang membuat tahun ini berbeda adalah munculnya teori melakukan pembuktian terbalik untuk menentukan 1 Syawal mana yang benar, dengan menghitung mundur sejak purnama bulan Syawal (link artikel tersebut). Dengan cepat, link tersebut beredar di masyarakat. Banyak orang yang serta-merta mengamini. Ketika purnama yang ditunggu-tunggu untuk pembuktian terbalik tersebut muncul, banyak orang yang mengunggah fotonya ke Facebook. Dan terbentuklah sebuah opini di masyarakat: pemerintah tidak becus dalam menentukan kapan 1 Syawal.

Tapi argumentasi dalam artikel tersebut memiliki banyak kelemahan. Bila membaca seluruh komentar di artikel tersebut --terutama dari komentar Nugraha Ahmad dan Abdul Muid, serta cara penulis artikel dalam berdiskusi/berdebat-- kita bisa ambil kesimpulan sendiri apakah opini dalam artikel tersebut layak atau tidak. Pakar astronomi Thomas Djamaluddin sendiri mengeluarkan argumentasi bantahan terhadap artikel tersebut. Kemudian, belakangan, Nugraha Ahmad membuat artikel tersendiri mengenai bantahan cara pembuktian terbalik ini.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa menarik ini:
  1. Mengeluarkan pendapat sah-sah saja, asal punya dasar yang kuat. Dan itu dilakukan tanpa langsung menjatuhkan pihak yang pendapatnya berbeda, karena belum tentu pemikiran kita benar. Ketika ada orang lain yang mengoreksi pemikiran kita dengan membawa argumentasi logis yang lebih baik, sudah seharusnya kita menerima dengan lapang dada, dan mengoreksi diri kita sendiri. Di sinilah pentingnya memiliki cara berpikir yang terbuka. (ini adalah poin paling basi, yang sampai bosan-bosan kita mendengarnya :D )
  2. Terlalu cepat mengamini suatu pemikiran tanpa menganalisisnya terlebih dahulu dengan cermat adalah sesuatu yang tidak baik. Ini terutama terjadi pada pendapat-pendapat yang menentang kebijakan pemerintah. Bisa jadi ini dikarenakan banyaknya penyimpangan yang dilakukan pemerintah, sehingga kepercayaan masyarakat menjadi rendah. Tapi hal tersebut tidak bisa menjadi alasan untuk langsung begitu saja mempercayai semua opini yang berseberangan dengan pemerintah, tanpa menganalisis benar-salahnya.
  3. Masih banyak di antara kita yang memiliki mental inlander, bahwa semua yang berasal dari luar negeri pasti benar dan lebih baik dari kita.
  4. Menurut saya, ada dua kebiasaan jelek kita yang kadang muncul dalam berdiskusi/berdebat: 1.) langsung menyalahkan pihak seberang tanpa dasar argumentasi yang kuat, ataupun langsung menyerang pribadinya, bukan pemikirannya. 2) berusaha menghindari terjadinya adu pemikiran, yang sebenarnya malah akan membuat masalah tidak selesai-selesai. Biasanya alasan yang sering digunakan adalah 'perbedaan sebagai rahmat', 'cinta damai', dan bla bla bla lainnya. Menurut saya, apabila ada dua pandangan berbeda yang muncul, biarkan saja mereka saling beradu argumentasi, sampai ngotot-ngototan kalau perlu. Asal, mereka bisa memberikan argumentasi yang logis, dan yang diserang adalah hasil pemikiran pihak seberang, bukan pribadinya. Kemudian, bila memang terdapat kesalahan dalam isi pendapatnya, dia harus sportif mengakui. Kita analisis saja isi perdebatan tersebut, dan ikuti mana yang memiliki argumen paling kuat.
Semoga ada hikmahnya, dan semoga pada tahun-tahun mendatang kejadian serupa tidak terulang kembali.

You Might Also Like

0 comments