Menjadi Indonesia di Amerika

Monday, April 01, 2013

LINK


"Hip hop dengan warna Jawa hanyalah ekspresi orang Jawa mutakhir, seperti halnya dulu nenek moyang kita membangun masjid dengan arsitektur Jawa Hindu. Tidak ada hip hop Amerika di Indonesia, seperti (seharusnya) tidak ada Islam Arab di tanah Jawa.
 .......................
Para akademisi Asian Studies di ber-bagai universitas di dunia, yang mengo-leksi film dokumenter Hiphopdiningrat (2010), mungkin akan sibuk meneliti dan memberikan label-label sulit semacam cross culture, akulturasi, dan tetek bengek lainnya, tapi bagi kami semua ini sangatlah sederhana. Kami orang Jawa yang mewarisi semangat nenek moyang; ‘menerima’ sekaligus ‘memberi’. Membuka diri dengan hal-hal yang baru atau yang datang dari luar dirinya, ‘menerima’ apa yang mereka suka, dan mencampurkannya dengan ‘memberi’ apa yang mereka miliki dari tradisi dan kebudayaannya. Akademisi akan menyebutnya sebagai sinkretisme.
Saya jadi teringat guru sejarah SMA saya bercerita, karakter nenek moyang orang Jawa adalah (hampir?)
tidak pernah menolak kebudayaan asing yang masuk. Mereka selalu menyesuaikan diri dengan hal baru tersebut. Ketika kebudayaan Hindu dan Budha masuk saat nenek moyang masih menganut animisme dan dinamisme, mereka menerima Hindu dan Budha dengan terbuka, tapi tanpa meninggalkan budaya lama mereka. Tatkala Islam masuk, mereka juga menerima, tapi dengan menyatukannya dengan budaya lama mereka (kasus ekstrem: Islam kejawen?).

You Might Also Like

0 comments