Human Capital, dan Poin-Poin Menarik dari Naked Economics

Thursday, July 11, 2013

[Dari buku Naked Economics: Undressing the Dismal Science]
Sumber: Amazon

Apa yang terjadi apabila tiba-tiba seluruh harta Bill Gates lenyap, tinggal menyisakan baju dan celana yang ia pakai saat itu saja?

Tidak masalah. Orang masih akan mencarinya untuk dijadikan konsultan, BoD, CEO, ataupun paling apes menjadi pembicara di seminar. Ia masih dapat melanjutkan hidup dengan mudah.

Apa yang terjadi jika hal serupa menimpa Tiger Woods?
Tidak masalah juga. Jika ada orang yang mau meminjamkannya stik golf, ia masih dapat memenangkan turnamen golf dengan barang pinjaman tersebut. Ia masih dapat mengumpulkan kembali asetnya.

Apa yang terjadi jika tabungan saya yang recehan tiba-tiba kosong, pekerjaan saya tiba-tiba hilang, dan saya tidak punya apapun lagi?
.....................(senyap).

-------

Tentu saja, poin di atas bukanlah topik utama dari buku Naked Economics. Tapi hal itu saya anggap menarik, karena apapun bentuk pemerintahan suatu negara, apapun ideologi yang mereka anut, penentu utama keberhasilan bangsa tersebut adalah kualitas SDM penduduknya.

Uni Soviet mungkin telah bubar, dan pada masa transisi pasca keruntuhan tersebut Rusia mengalami goncangan ekonomi yang hebat. Namun, kini mereka telah mulai bangkit. Dari sepengamatan saya, hal tersebut tidak mengherankan, karena sistem pendidikan mereka yang relatif bagus (belum sebagus AS atau negara Eropa barat, tapi jauhlah dibanding dengan kita.) Kebangkitan ekonomi mereka memang ditopang oleh kenaikan harga gas dan minyak bumi. Tapi toh, pemain industri migas mereka adalah Gazprom, Lukoil, Rosneft, bukan Chevron, Total, BP, ataupun Petrochina. Dan mereka pun menguasai teknologi level tinggi, semacam industri aerospace, industri militer kelas berat (tank, ICBM, kapal selam, dll ), dengan industri pendukungnya yang berada di lokal juga.

----------

Kembali ke buku tersebut.
Buku ini mengubah pandangan saya tentang ilmu ekonomi. Dulu, saya menganggap ekonomi hanya berkisar pada pasar dan penawaran-permintaan barang/jasa. Tapi ternyata, ekonomi mempelajari jauh lebih dari pada itu. Yang saya tangkap, ekonomi mempelajari perilaku manusia itu sendiri dalam memenuhi kebutuhannya: cenderung mencari keuntungan sebesar-besarnya, dengan usaha yang sekecil mungkin.

Dalam buku ini, kapitalisme adalah sistem terbaik, globalisasi itu perlu, dan campur tangan pemerintah (contoh: subsidi, proteksi) dalam kehidupan ekonomi haruslah seminim mungkin. Yeah, terdengar sangat neolib bagi kita. Namun, dari argumentasi yang diberikan, saya pikir alasan-alasan yang disajikan cukup logis.

Yang menyebabkan kapitalisme, liberalisme, dan globalisasi seperti memperbudak negara dunia ketiga adalah karena faktor-faktor internal mereka sendiri, seperti pemerintahan yang korup, penegakan hukum yang buruk, dan kebijakan yang tidak tepat. Contoh paling relevan saat ini mungkin dalam kasus impor daging sapi. Di satu sisi, daging dalam negeri suplainya terbatas dan harganya sangat mahal karena infrastruktur dan tata kelola yang buruk, di sisi lain daging dari luar negeri cukup murah karena industri peternakan mereka cukup efisien. Diperparah lagi dengan adanya pengutipan komisi untuk setiap kg daging yang diimpor. Tapi, masih ada saja yang menuding mahalnya daging karena konspirasi dari negara-negara eksportir daging. Bisa jadi negara-negara tersebut mendesak kita untuk membeli produk mereka, tapi apabila pemerintah berani bersikap tegas untuk menolak, serta mau untuk membangun industri peternakan beserta infrastrukturnya yang efisien dan masif, saya rasa daging kita pasti bisa diadu dengan daging impor.

Hal menarik lainnya adalah, bahwa kegiatan ekonomi bukanlah zero-sum game, dimana pada setiap pemenang selalu ada pecundang. Di dalam perekonomian, meningkatnya kemakmuran suatu negara akan berimbas pada munculnya kesempatan-kesempatan baru bagi perekonomian negara lain.

Dulu, ketika industri negara-negara maju mulai memindahkan lini produksinya di negara berkembang untuk menekan ongkos, negara-negara seperti China, Taiwan, Korea Selatan, maju mengambil peluang. Mereka memanfaatkan relokasi industri tersebut sebagai titik lompat untuk membangun perekonomian negaranya. Dengan disertai pembangunan SDM yang memadai, negara-negara tersebut mulai beralih dari sekedar negara tempat investasi murah menjadi negara maju dengan industri mereka sendiri. Dan pada gilirannya, ketika mereka telah berubah menjadi negara maju, mereka akan membuka kesempatan ekonomi baru bagi negara-negara lain. Seperti Indonesia. Yang sepertinya dari dulu selalu nyaman mempromosikan diri sebagai negara dengan ongkos buruh murah untuk menarik investasi. Huh.

You Might Also Like

1 comments

  1. Artikelnya lengkap dan menarik, tidak membosankan untuk disimak, tipsnya bermanfaat banget

    ReplyDelete