Bab Baru

Saturday, August 30, 2014

Tiga tahun terakhir ini benar-benar seperti wahana roller coaster bagi saya. Naik, turun, meliuk-liuk, mengaduk-aduk perasaan (btw, saat ini saya sudah tidak sanggup lagi naik roller coaster hehehe). Banyak hal-hal baru yang saya dapatkan. Senang, sedih, bahagia, frustasi, antusias, kecewa, lengkap. Tapi yang paling saya syukuri adalah ketika saya pada akhirnya (semoga) menemukan kembali diri saya hilang.


'Dia' yang telah menghilang sekitar 14 tahun yang lalu, syukurlah telah saya temui kembali. Saya menyapa 'dia'. Kemudian, cukup lama kami berbicara. Dari hati ke hati. Hingga di ujung perbincangan, kami memahami satu sama lain. Kami lalu berpelukan erat. Lama... hingga kami akhirnya menyatu kembali. Saya menerima 'dia'. 'Dia' menerima saya.

Hal tersebut baru saja terjadi. Kira-kira dua bulanan yang lalu. Dan sekali lagi, saya bersyukur dapat menuntaskannya. Satu misi yang harus jalani telah berhasil dilalui.

Dan kini, saatnya lanjut ke misi hidup yang lain. Saya ingin mewujudkan cita-cita lama saya yang tertunda sekian tahun. Berkaca ke cetakan tanggal lahir di KTP, saya sempat ragu, apakah saya mampu untuk melakukannya. Melihat sosok istri saya, saya jadi bimbang, bagaimana kalau gagal?

Tapi saya harus berterima kasih kepada teman saya, Dana, yang telah menginspirasi saya untuk mengambil jalan ini. Saya juga berterima kasih pada seseorang (saya lupa IDnya) yang memposting di Kaskus sebuah kalimat bagus:

Segala hal yang menyangkut masa depan pasti menakutkan

Sangat tepat sekali. Dan ketakutan-ketakutan itulah yang sering menghantui saya selama ini, hingga terkadang saya takut bertindak. Dimana itu adalah sebuah kesalahan besar. Pelajaran yang saya dapatkan adalah melakukan kesalahan masih jauh lebih baik ketimbang diam. Setidaknya, ada pembelajaran yang kita dapatkan dari kesalahan itu, yang bisa digunakan di masa depan.

Pertemuan yang saya ceritakan di atas ternyata secara ajaib menghapus ketakutan-ketakutan itu. Saya sadar saya hanya bisa berusaha sekuat tenaga, tapi jalan cerita tetap dipegang oleh sang Sutradara Besar. Saya siap, dan saya ikhlas, bila kelak tidak terjadi seperti yang saya impikan. Tapi satu hal yang pasti, saya tidak ingin diri saya di masa depan menyesal, karena saya tidak berjuang mewujudkan cita-cita saya selagi saya diberi kesempatan.

Saya harus mengakhiri tiga tahun masa saya di Bogor. Saya hanya bisa berharap, kehadiran saya selama masa tersebut ada manfaatnya. Saya bersyukur karena saya diberi kesempatan bertemu dengan orang-orang baik yang mengajarkan saya banyak hal.

Misi selanjutnya: lokasi di Enschede, Belanda, dengan durasi dua tahun.

Saya siap.

You Might Also Like

0 comments