Narcos

Sunday, February 19, 2017

Image source: imdb.com

Narcos adalah serial dari Netflix yang bercerita tentang usaha penumpasan kelompok pengedar narkotika (kokain) Kolombia pada era 80-90an oleh pemerintah Kolombia dibantu dengan Amerika Serikat. Sejauh ini Narcos telah menyelesaikan dua season, dengan season ketiga sedang dalam masa produksi.

Season 1 dan 2 berpusat pada cerita usaha penangkapan Pablo Escobar dengan tokoh utama dua orang agen DEA, Stephen Murphy dan Javier Pena. Season 1 berjalan pada rentang ~15 tahun karier Pablo, dari awal merintis bisnisnya hingga meraih puncak kesuksesannya, di mana dia diganjar Forbes sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Season 2 hanya bercerita pada rentang 1,5 tahun dari ketika Pablo melarikan diri dari penjara hingga akhirnya tewas terbunuh polisi ketika dalam pengejaran.

Narcos meraih sukses besar. Banyak orang yang menyukainya. Rating di Rotten Tomato dan IMDB terbilang lumayan tinggi. Beberapa nominasi penghargaan, termasuk di Academy Awards juga diraih. Meski demikian, saya lumayan telat mengikuti seri ini. Ugh.

Ada beberapa hal menarik yang masih menggelayuti pikiran saya (ah..) selesai khataman sampai season 2:
  1.  Narkotika tidak hanya berbahaya bagi pengguna. Narkotika juga berpotensi meminta korban nyawa selama pembuatan maupun distribusi. Dalam Narcos digambarkan bagaimana kartel narkotika akan melakukan apapun untuk melindungi bisnis mereka: polisi dibunuh. Politikus yang menentang juga akan dibunuh. Pesaing juga dibunuh. Tentu saja selama dalam proses tersebut, muncul korban dari rakyat yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, kurir narkotika juga bertarung dengan maut, apalagi bila mereka menyimpan dalam tubuhnya. Ketika kapsul kokain pecah di perut, tubuh mereka akan mengalami keracunan berat dan dapat berdampak pada kematian. Kasus terakhir ini dulu sering saya temukan di surat kabar yang terjadi pada penyelundup yang masuk ke Indonesia. Jadi, ketika anda membeli narkotika, secara tidak langsung anda ikut andil dalam menghilangkan nyawa seseorang. Lebih jauh lagi, membeli narkotika juga berpeluang untuk ikut andil bagian dalam membiayai kegiatan terorisme.
  2. Kemiskinan adalah akar dari masalah sosial. Banyak orang yang rela bergabung dengan kartel narkotika karena tidak mampu menemukan pekerjaan yang layak. Orang seperti Pablo Escobar juga dengan cerdik memanfaatkan ini dengan menjadi juru selamat bagi orang di kotanya, Medellin. Dia membangunkan rumah bagi orang-orang miskin, menyumbang fasilitas sepakbola, dan hal-hal sosial lainnya untuk merebut simpati publik. Ada suatu titik dimana polisi kesulitan menangkap Pablo dan komplotannya karena masyarakat yang sudah telanjur simpati pada mereka tidak mau membantu. Dalam konteks Indonesia, kita melihat hal ini pada ormas-ormas preman yang berkedok agama ataupun Pancasila. Mereka mudah merekrut massa karena mereka mampu memberikan pekerjaan kepada massa tersebut, entah sebagai tukang parkir ataupun tukang pukul. 
  3. Politik adalah dunia yang sangat kejam, karena ketika anda mencoba masuk ke dalamnya, maka orang akan berusaha menelanjangi masa lalu anda dan menjatuhkan anda. Kesalahan terbesar Pablo adalah mencoba masuk ke politik. Padahal Gustavo, sepupu sekaligus orang kepercayaannya, sudah mengingatkan bahwa lebih baik ia konsentrasi di bisnis saja. Ketika ia muncul di tempat yang terang, ia sudah tidak bisa bersembunyi lagi. Ketika orang mulai mempertanyakan legalitas uangnya, ia mulai terpojok. Sayangnya, ia menjawab dengan kekerasan yang membunuh banyak orang Kolombia. Kartel Cali, kompetitor Pablo, menyikapi hal ini dengan lebih baik. Mereka lebih memilih untuk tetap bergerak senyap dengan menutupi bisnis haram mereka dengan usaha legal. Ketika anda seorang pengusaha kaya-raya dan memerlukan penguasa untuk melindungi kepentingan bisnis anda, akan jauh lebih sederhana bila anda 'memegang' politikus dengan menyuapinya uang untuk menyetir mereka.
  4. Mencuci uang. Pablo Escobar berhasil menguasai pasar narkotika Amerika Serikat. Dia mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Tapi masalah baru timbul. Bagaimana ia mengirimkan uang dari Amerika Serikat ke Kolombia? Tentu transfer bank bukan pilihan, karena akan mudah diendus FBI. Sementara iapun juga tidak bisa menyimpan uang di bank. Jadilah tumpukan uang yang terus menggunung sementara yang bisa diselundupkan ke negara asalnya juga terbatas. Di Kolombia pun dia mengalami kesulitan yang sama. Akhirnya, dia sebar uangnya ke berbagai tempat persembunyian, termasuk mengubur di tempat-tempat tertentu. Money laundering ternyata tidak mudah. Atau mungkin seharusnya Pablo lebih pintar dalam mencari 'manajer investasi' dalam memutar uang haramnya.

Secara umum, saya menyukai Narcos. Selain ceritanya sendiri realistis (karena berdasarkan kisah nyata), penggarapannya benar-benar bagus dalam menerapkan detail tahun 1980an. Dari kumis sampai baju yang digunakan. Aktingnya juga terlihat bagus. Terutama Wagner Moura sebagai Pablo Escobar. Meskipun kalau diperhatikan di Internet banyak yang mengkritik karena kemampuan bahasa Spanyolnya yang kurang bagus (dia orang Brazil). Meskipun (sejauh ini) fokusnya adalah pada kehidupan Pablo, tapi tidak sampai membuat saya memberikan simpati untuknya. Ini sesuai dengan keinginan tokoh asli Pena dan Murphy yang tidak menginginkan sama sekali munculnya simpati dari masyarakat terhadap seorang Pablo Escobar.

Meski demikian, saya melihat ada beberapa hal yang sebenarnya bisa ditingkatkan lagi agar serial ini benar-benar sempurna:

  1. Rentang waktu yang tidak seimbang. Season 1 untuk 15 tahun, sedangkan season 2 1,5 tahun. Menurut saya, season 1 terlalu singkat dimana seharusnya ada bagian-bagian yang dapat dieksplor menjadi episode-episode sendiri. Misalnya tentang bagaimana usaha DEA dan polisi Kolombia dalam menyadap komunikasi orang-orang kartel (ini memakan waktu yang lama dan membutuhkan skill teknis yang tinggi). Di season 2, ada beberapa bagian yang menurut saya terlalu bertele-tele dan membosankan. Terutama adegan tentang Tata. Saya pikir dia adalah karakter yang membosankan.
  2. Sejauh mana peranan Steve Murphy? Sepanjang perjalanan serial ini, kita mendapat gambaran mengenai sepak terjang Javier Pena. Dia fasih berbicara bahasa Spanyol, yang membuatnya leluasa berkomunikasi dengan polisi dan orang-orang penting Kolombia. Dia juga aktif mengorek keterangan dari informan-informannya. Dia jugalah yang berinisiatif menghubungi Los Pepes untuk membantu melemahkan Pablo. Tapi saya tidak mendapatkan gambaran mengapa karakter Steve Murphy itu penting. Dia tidak bisa bahasa Spanyol, yang berarti dia tidak bisa bebas berbicara dengan orang lokal. Ketika Murphy mengalami masalah, Pena membelanya di hadapan bos dengan mengatakan bahwa Murphy berperan penting dalam berinteraksi dengan informan lokal. Tapi tidak ada cukup adegan yang menggambarkan hal tersebut. Mungkin Murphy berperan penting dalam analisis data intelijen, tapi sayangnya juga tidak ada cukup adegan untuk membuktikannya.
  3. Ada kejanggalan ketika keluarga Pablo tiba di Kolombia setelah dideportasi dari Jerman. Mengapa tidak ada sama sekali anak buah Pablo yang menjemput? Tentu Tata bisa dengan mudah menghubungi Pablo terlebih dahulu sebelum mereka bertolak dari Jerman. Akibatnya, mereka dapat dengan mudah 'disandera' pemerintah Kolombia.
  4. Pada episode 1 season 1, diperlihatkan bahwa Pablo marah besar ketika tahu agen DEA (Murphy) terlibat dalam pembunuhan anak buahnya. Diapun menaikkan tawaran hadiah uang bagi orang yang berhasil menangkap atau membunuh Murphy. Sayangnya hal ini tidak pernah dieksplor di episode-episode selanjutnya. Saya membayangkan, akan ada banyak orang yang menyerang Murphy karena mengharapkan uang dari Pablo. Tapi sayangnya itu tidak pernah terjadi.
Yang pasti, Narcos sudah menjadi salah satu serial favorit saya. Narcos juga berhasil membuat saya (memiliki keinginan) belajar bahasa Spanyol. Sejauh ini kosakata saya baru hejo puta, el patron, dan mi hermano. Masih jauh dari cukup hehehe. Season 3 mendatang, cerita akan berpusat pada penumpasan kartel Cali. Murphy sendiri sudah tidak ambil bagian. Apakah Narcos masih akan semenarik ketika Pablo masih hidup, saya juga tidak sabar untuk melihatnya.

You Might Also Like

0 comments